Stetoskop
buat ibu
Oleh Riky Farizal
Disuatu desa ada seorang anak
yang tinggal bersama kedua orangtuanya. mereka adalah keluarga yang hidup di
bawah garis kemiskinan, anak itu bernama wily. Wily adalah seorang anak yang
patuh kepada kedua orangtuanya, dia selalu membantu pekerjaan orangtuanya namun
tidak pernah meninggalkan sekolahnya. Dahulu wily dan orangtuanya tinggal
bersama kakaknya, namun setelah kakaknya menikah sang kakakpun ikut tinggal
bersama istrinya. Semenjak itu kakaknya tidak pernah ada kabar, sepucuk
suratpun tak nampak.
Hari terus berganti, si wily
semakin beranjak dewasa, tak terasa sekolahnya di jenjang SMA sudah akan
selesai. Namun, seiring berjalannya waktu bertepatan dengan hari kelulusannya
ayahanda menghembuskan nafas terakhirnya, dengan memberi sepucuk pesan untuk
wily “Anakku, ayah mohon jaga ibumu,
bahagiakan ibumu, karena ayah belum mampu membahagiakan ibumu nak. Berjuanglah
demi mimpimu,demi ibumu”. Semenjak itu wily sangat terpukul, ia bingung apa
yang harus ia lakukan, ibunyapun semakin tua, berbagai penyakit bergantian
menggerogoti tubuh ibunya. Perih, lirih, merasa bersalah wily melihat ibunya
menahan rasa sakit tanpa harus ada yang ia lakukan.
Hingga pada malam hari, ia
berbicara denagn ibunya tentang keinginan dirinya. “Ibu, wily tau ibu tak mungkin hidup seorang diri, wily tau ibu
saying dengan wily. Oleh karena itu, demi membalas kasih saying ibu, izinkan
wily berjuang lanjut sekolah ke jenjang perguruan tinggi bu ? wily ingin
menjadi seorang dokter hebat yang mampu mengobati penyakit ibu yang tak kunjung
sembuh”. Dengan wajah sungkan, berat hati, sang ibu tak terasa meneteskan
air mata sambil berkata “wily anakku,
sungguh mulia hatimu, kau rela berjuang demi ibu. Sungguh ibu tak pernah
menyangka ibu kelak akan hidup di gubuk ini seorang diri tanpa di temani
ayahmu, kakakmu, bahkan dirimu. Anakku, berangkatlah nak, berjuanglah diluasnya
dunia, namun jangan pernah lupakan ibu nal”.
Malam itu terasa sangat mencekam
dan penuh haru. Keesokan harinya wilypun berangkat berjuang untuk mendaftar dan
tes di perhuruan tinggi dengan niat mengambil jurusan kedokteran. Dengan penuh
haru, wily pamit dengan sang ibu, deraian air mata menghiasi wajah keduanya. “ Ibu, do’akan anakmu kata wily sambil
mencium tangan, pipi dan kaki sang ibu” dengan deraian air mata terselib
senyum sang ibu dan berkata “ pasti
anakku, do’a ibu selalu menyertaimu, cepatlah pulang anakku, bawalah stetoskop untuk ibu”.
Dengan penuh perjuangan, tes demi
tes dijalani wily hingga akhirnya wily sekolah di fakultas kedokteran dan wily
memperoleh beasiswa dari pihak universitas tempatnya manuntut ilmu. Hari demi
hari berlalu, dalam sujud wily teringat wajah sang ibu, hingga ia nengirimkan
sepucuk surat untuk ibu yang sang atsingkat isinya.
Untuk Ibu
Tersayang
Di kampung
Halaman
Salam rindu,
Ibu apa kabar ibu disana ? apakah ibu sudah makan hari ini
? bagaimana keadaan ibu saat ini ?. ibu jagalah kesehata ibu, ibu jangn
fikirkan wily. Wily disini baik-baik saja dan segala masalah wily bias
menghadapinya. Ibu berita gembira untukmu, wily saan ini sedang kuliah di
fakultas kedokteran dan insyaallah besok wily akan menjalankan upacara
pengambilan sumpah dokter yang pertama, semua ini berkat ibu dan akan bawa
stetoskop buat ibu.: )
Salam
hormat dan rindu
Anakmu wily
|
Setelah surat itu, wily tak
pernah lagi mengirim surat. Ibunya selau menunggu dan menunggu, pak pos selalu
ditanyakannya “ pak, adakah surat untukku
? “ selalu pertanyaan itu tyang ditanyakannya kepada pak pos. bertahun
tahun ibunya menunggu, dengan penuh cemas dan rasa rindu akan kabar wily yang
tak pernah memberinya kabar lagi. Sakinyapun semakin parah dan tak ada yang
menemaninya di gubuk itu, hanyalah tetangganya yang terkadang menengoknya
disana. Sang kakakpun tak ada kabar bak ditelan bumi. Dalam keheningan malam
dan sambil menahan sakitnya penyakit yang ia rasakan sang ibu berdo’a “ YaAllah, apakah kabar anakku disana ?
adakah dia ingat kepadaku disini. yaAllah gerakkanlah hati anakku, yang mungkin
kini sibuk dengan dunia barunya,yaAllah aku merindukan anakku, aku rindi cium
kasih sayangnya,yaAllah sebelum aku memenggilku dengan penyakitku ini, aku
mohon perkenankan aku bertemu dengan ankku”.
Teng.teng.teng suara jam wily
berbunyi, atu bertanda hari ini dia akan mendapatkan gelar dokternya dan akan
segera pulang mmbawa stetoskop buat sang ibu. Upacara penyematan gelar
dokterpun akan berlangsung, dan tiba saatnya disebut gelar dokter muda terbaik.
Tak disangkanya nama wilylah yang disebut oleh guru besar universitasnya. Tak
terasa air mata wily bercucuran dan sambil melangkah menuju podium kehormatan,
ia berdiri disana dan berklata “ ini semua anugrah-Nya, ini semua berkat do’a
ibuku, ibuku yang kini tak tau kabarnya, ibuku yang kini menanti diriku dan
stetoskop yang kujanjikan untukknya di kampong hal;aman tercinta. Denagn
deraian air mata, ia berdiri-melangkah-dan berlari pergi menuju kampong
halamanya dengan menggunakan jubah kebanggaan dan sebuah stetoskop dilehernya.
Namun, apa yang ia lihat setibanya di sana ? rumahnya sanagt ramai oleh warga,
ia tersenyum bahagia, ia menyangka bahwa semua warga berkumpul untuk menyambut
kedatangannya, namun, dia mulai bingung, mengapa ada sebuah bendera kuning
didepan pintu rumahnya....
Wilypun terdiam,menangis,berlari
sambil berteriak “ Ibu....................................”,
namun ia menemukan ibunya telah terbaring kaku, namun senyum sang ibu tetap
terpancar indah intuknya. Wilypun menangis dan berkata “ ibu,wily pulang bu, ini wily bawakan stetoskop buat ibu, seperti
permintaan ibu dahulu. Ibu..................ampuni wily bu, ibu wily sayang
ibu, maafkan wilybu”. namun, sang ibu tetap tertidur pulas dan kaku diatas
keranda hijau nan indah itu.